Senin, 03 Februari 2020


Bebek Menoreh ke Kiri

Membahas perihal Bebek Menoreh ke Kiri, alkisah ada satu legenda yang kerap diceritakan secara diam-diam dan turun temurun di antara kawanan bebek di perbukitan Menoreh. Anak-anak bebek yang bergelung dalam dekapan ibunya setiap malam mendengarkan dengan kedua mata terbelalak lebar.

"Kweekk. Kwek kwek kwwekk kwweekkk??" (Cerita tentang Bebek Menoreh ke Kiri?)

Ya, ini cerita tentang Bebek Menoreh ke kiri. Bebek rebel. Bebek nyeleneh. Tindak-tanduknya tak selazim tingkah laku bebek-bebek pada umumnya.

Saat pemilik peternakan memberi makan, si bebek rebel berani bersuara lantang. “Kamu pikir makanan segini cukup untuk kami? Kurang tau! Mana enggak enak lagi! Beri kami pecel lele!”

Bebek-bebek yang lain mencoba membungkam cucuk si bebek, tapi bebek nyeleneh itu bisa berkelit dan terus berkwek-kwek protes. Bebek-bebek yang lain cemas bila pemilik peternakan bakal marah, tapi laki-laki itu terus melanjutkan pekerjaannya.

Si bebek nyeleneh juga kerap menyelinap keluar kandang. Sendirian berjalan-jalan di pematang sawah atau kecipak-kecipuk berenang di sungai. Tak ada yang tahu bagaimana ia berhasil lolos.

“Kwekk kwekk kwekkkm kweeekk kwwek kkweekk…~” (bersenandung; la la la la la, aku cantik sekali hari ini)

Bebek rebel itu memetik kembang sepatu. Lalu, ia berfoto selfie –kepalanya ditelengkan ke kiri didekatkan bunga. Ckrek, ckrek, ckrek.

"Kweekk, kweeekk kkeewwk” (Oh, aku cantik sekali)

Keonarannya tak berhenti sampai di sana. Sepulang dari ngelayap, si bebek mengajak pulang seekor bebek jantan dari kandang milik peternak lain. Sebelumnya mereka bertemu di Kali Sepuri, menghabiskan waktu bercengkrama berdua-duaan, lalu pulang bergandengan tangan. Di dalam kandang mereka mojok di tempat sepi sembari terus cekikihan seperti ABG sedang kasmaran.

Para bebek yang lain tak bisa berbuat apa-apa. Mengingatkan si Nyeleneh hanya akan menambah sakit hati karena nasihat mereka  diabaikan. Melaporkan pada pemilik peternakan, manusia tak mengerti bahasa kwek-kwek mereka.

Hingga kesempatan itu tiba…
Sang Peternak mendapat telepon dari temannya. 

“Ya? Dadakan banget, nih. Pesan bebek segar satu? Bebek bakar? Oke. Cuma satu saja nih? Ooh, ya ya. Menuruti Nyonyah pelangganmu yang sedang mengidam ya? Oke. Oke. Aku sudah hendak pulang, sih. Tapi nggak apa-apa, aku tangkapin buat pesananmu.”

Para kawanan bebek segera berhamburan pergi. Mereka berkumpul di pojokan. Begitu tangan si Peternak hendak menyahut salah satu dari mereka, Tetua Bebek menendang bokong si Bebek Nyeleneh -- dung!

“Kwek!” (biyangane)

Kepergian si Nyeleneh diiringi celotehan kwek-kwek yang ramai sekali. “Akhirnya si sok rebel itu ditangkap aparat, lalu dibakar!”

Untuk sementara waktu kandang mereka aman. Tak ada lagi begundal nyeleneh yang membuat mereka risih.

Selang beberapa hari kemudian, si Peternak kembali menerima telepon. “Apa? Bebeknya selalu menoleh ke kiri? Kok, aneh. Ha-ha-ha. Bahkan setelah diungkep, lehernya ditolehkan ke kanan pun tetap akan kembali ke kiri? Kenapa ya? Lalu, kau beri nama apa pesanan bebek bakar yang itu? Bebek Menoreh ke Kiri –habisnya rebel, sih? Ha-ha-ha. Mashook, mashoook.”

Begitulah. Kelak, bila kamu memesan bebek utuh #BebekMenoreh dan mendapati bebeknya menoleh ke kiri, berarti kamu beruntung mendapatkan si bebek rebel dan nyeleneh; Bebek Menoreh ke Kiri. 😀
Copyright © 2018- | Viva | Sitemap | MURAKABIVOLQAmedia | KULINER BEBEK MENOREH | Bebek Jogja Mantap Siap Santap