Jumat, 03 Januari 2020


Sindikat Pencuri Pulpen

“Kenapa, ya, setiap kali mau dipakai, pulpen selalu hilang?"

Ada yang pernah mengalami hal yang sama? Atau, mengucapkan kalimat di atas untuk ke sekian juta kali?

Memang, setiap kali dibutuhkan, benda satu itu selalu saja tak ada di tempat. Awal mulanya aku juga bingung, sama seperti kalian. Hingga aku terbelit pada sebuah keadaan; tak ada uang alias bokek dan seorang teman memberi sebuah saran; “Gabung Sindikat Pencuri Pulpen saja. Dengar-dengar bayarannya lumayan.”

Tak dibutuhkan banyak syarat untuk bergabung dengan Sindikat Pencuri Pulpen, kecuali kamu taat peraturan dan sedang butuh uang.

Aku mendengarkan penjelasan Bos Sindikat dengan kikuk. Rasanya masih aneh, ternyata memang benar-benar ada yang mencuri pulpen. Selama ini kukira benda tersebut hilang karena terselip atau yang sejenisnya.

“Kami dibentuk oleh para pendiri merek-merek pulpen di dunia. Target kami mahasiswa dan pekerja biasa – mereka yang menggunakan pulpen seharga tiga ribuan, atau paling mentok puluhan ribu. Sindikat Pencuri Pulpen tak menggasak pulpen-pulpen mahal milik pengusaha kakap.”

Pulpen-pulpen murah itu harus ‘dihilangkan’ supaya target para Sindikat Pencuri Pulpen mengeluarkan uang untuk membeli barang yang sama.

“Pulpen itu termasuk barang yang awet. Murah lagi. Bila tidak dihilangkan, kami dapat untung besar dari mana?”

Sebenarnya tidak benar-benar dihilanngkan. Hanya disembunyikan sementara waktu sampai si empunya beli yang baru. Setelah itu pulpen yang lama kami kembalikan ke tempat semula. Familiar dengan seruan, “Ya ampun, saat enggak dipakai, malah ketemu!”

Itu semua hasil kerja Sindikat Pencuri Pulpen!

Aku setuju bergabung. Tak sulit untuk menyepakati peraturan Sindikat Pencuri Pulpen – kami hanya harus menyembunyikan di saat yang tepat. Bila tidak, tidak ada potong gaji. Tapi, kami akan dipaksa menghabiskan secawan kecil berisi tinta pulpen. Rasanya tak usah ditanya, yang pasti bikin diare seharian.

Hanya menyembunyikan eh mencuri pulpen saja, kan? Apa sulitnya, sih?

Sebagai anggota Sindikat Pencuri Pulpen kami diberi kemampuan mengecilkan badan dan menjadi transparan. Saat bertugas kami dibekali kain ajaib – kain yang kami selimutkan untuk menutupi pulpen.

Tugas kami tak berhenti sampai setelah pulpen 'lenyap'. Kami masih harus terus memantau – sampai kira-kira si empunya membeli pulpen yang baru. Kalau sudah begitu, seperti yang bisa kalian duga; pulpen lama akan muncul kembali. Kami memberi centang pada lis daftar target –tanda tugas kami telah berhasil ditunaikan.

Sejauh ini aku berhasil melaksanakan tugas dengan baik. Aku ‘mencuri’ pulpen lalu ‘mengembalikan’nya tepat waktu. Kondisi keuanganku membaik. Kupikir ini kujadikan saja sebagai pekerjaan utama saja. Toh, ini pekerjaan yang sangat mudah. Tak pernah sekali pun aku gagal melaksanakan tugas.

Hingga suatu hari….

Pagi hari sekali aku datang dan mengendap di meja ruang tamu. Di sana terdapat pulpen dan beberapa peralatan lainnya. Di atas meja makan terdapat kardus dengan cap bertuliskan Bebek Menoreh. Dari dapur terdengar suara kemrinyak sesuatu sedang digoreng –hmm mungkin bebek?

Aku menunggu waktu yang tepat. Hingga kemudian bebek goreng (ternyata dugaanku benar) diangkat, ditiriskan, lalu dimasukkan ke dalam kotak kardus.

Seharusnya aku segera menyelimutkan kain selimut ajaib ketika si Tukang Masak Bebek Menoreh sibuk mencari nota –yang artinya sebentar lagi ia akan menulis dan membutuhkan pena. “Semoga enggak hilang atau ketlisut lagi kayak biasanya, hih!” gumamnya separuh jengkel. Tapi, godaan aroma bebek goreng mengalahkan akal sehatku.

Bukannya melaksanakan tugas, aku malah merambat naik kotak kardus. Aroma gurih dan kemriyuk #BebekMenoreh semakin menggoda. Aku turun perlahan. Hingga di dasar kotak kardus yang dialasi daun pisang, tanganku mencuil daging bebek goreng yang empuk dan gurih tersebut.

“Hemmm… nyamm… nyammm… astaga, enaaakk!” gumamku semakin girang dan giat mencicipi bebek goreng utuh @bebekmenoreh.

Aku baru sadar lalai dalam bertugas ketika nota itu disobek dan si Tukang Mangsak hendak menutup kotak kardus. Aku buru-buru melompat keluar. Saat melihat pulpen tergeletak di samping kardus, keringat dingin menetes-netes membasahi sekujur tubuh.

Aku gagal melaksanakan tugas. Gawat… :’((

Sepanjang hari itu aku melanjutkan pekerjaan dengan hati tak tenang. Dan, benar. Setiba di markas Sindikat Pencuri Pulpen, Bos Sindikat sudah menyambutku dengan wajah sedih. Aku didudukkan di sebuah kursi dengan meja dan secawan tinta yang harus kuhabiskan demi menjalankan hukuman.

Kukira pekerjaan ini mudah. Tapi, ternyata hanya karena aroma bebek goreng #BebekMenoreh semuanya jadi berantakan. Dan, aku terpaksa menerima hukuman. ;(( ;((
Copyright © 2018- | Viva | Sitemap | MURAKABIVOLQAmedia | KULINER BEBEK MENOREH | Bebek Jogja Mantap Siap Santap