Rabu, 15 Mei 2019


Perebutan Bebek Menoreh Agung Sedayu dan Kedhung Pedhut

Agung Sedayu terpelanting menjauh. Ia berusaha bertahan namun tenaga asing yang menyerang tiba-tiba tanpa aba-aba terlalu besar. Langkahnya terhuyung ke belakang sebelum akhirnya ia menguasai kendali tubuh.


Beett!

Besek bambu dari tangan pendekar muda murid Kiai Samigaluh itu raib! Sekelebat bayangan hitam terbang mendekat lalu lenyap.

Punggung Agung Sedayu yang kena pukul bersenut pedih. Namun hanya sebentar. Ilmu musuhnya kali ini tak main-main. Pemuda itu kini meringankan tubuh hingga melenting ke atas. Kedua matanya awas mencari.

Perbukitan Menoreh sore itu tampak melulu hijau terbentang. Langit sore yang bersemburat awan-orange dan putih membuat perbukitan terlihat begitu syahdu.

Weerr!

Sesosok anak muda bertubuh gemuk pendek berderap di atas pucuk-pucuk bambu. Kecepatannya bagai alap-alap. Besek milik Agung Sedayu ada dalam kempitan lengannya yang sebesar regol kecamatan.

Kedhung Pedhut!

Toyak Agung Sedayu terhunus cepat. Langkah Kedhung Pedhut terhalang. Pemuda rakus doyan makan -- sekaligus gemar mencuri itu menghindari serangan murid Kiai Samigaluh dengan memutar tubuh menjauh. Beberapa batang bambu yang sudah tua ber-krakkk-krakkk patah di beberapa lokasi.

Agung Sedayu tak menghentikan kecepatan menghajarnya. Pemuda itu melompat garang. Kedua kepal tangannya menghantam dada Kedhung Pedhut.

"Ampun, Kakaang...," rintih Kedhung Pedhut setelah tertonjok hingga terpojok. "Aku berpuasa dan sekadar mencari makanan berbuka."

"Tapi tidak dengan mencuri makananku, Kedhung!"

"Aroma bebek gorengnya, Kang.... Menggoda. Menggerakkan naluriku untuk --"

"Mencuri!" potong Agung Sedayu penuh amarah.

"Tidak, Kang. Aku sudah bertobat," jawab Kedhung Pedhut.

Agung Sedayu tak percaya sedikit pun dengan perkataan anak muda di hadapannya. Kedhung Pedhut tak disukai masyarakat karena gemar mencuri. Hasil panen desa yang diangkut gerobak hampir selalu berkurang hingga separuh karena perbuatan busuk Kedhung Pedhut. Jagung, ketela pendem, blewah, pisang, dan macam-macam dirampok oleh si pemuda rakus.

Curiga Agung Sedayu terbukti. Begitu melihat celah sedikit, Kedhung Pedhut berkelit kabur. Serangan toyak Agung Sedayu berhasil dikembalikan hanya dengan beberapa kali sentak.

Menu Bebek Menoreh gorengku, batin Agung marah. Bebek goreng asin gurih dengan kulit kemriyuk sedikit nglenga (berminyak) saat dipuluk dengan nasi putih panas dan sambal bawang pedas --krenyes, krenyes, krenyees....

Agung Sedayu takkan membiarkan menu berbukanya diambil begitu saja!

Perkelahian tak dapat dielakkan. Jurus-jurus mematikan saling menyambar-nyambar.

Gerakan Agung Sedayu lincah seperti burung walet yang menari-nari di batas langit senja. Sedangkan pukulan Kedhung Pedhut berat dan penuh tenaga. Berputar-putar berbahaya menangkis segala serangan lawan. Keduanya melontar-lontar saling serang.

Tusukan keras toyak telak Agung Sedayu berhasil memukul mundur Kedhung Pedhut. Besek.bebek goreng berhasil ia rebut kembali.

Tubuh gempal penuh luka Kedhung Pedhut menyungsruk hingga pinggir kali. Air yang berkecipak membasahi tubuh lunglai si pencuri yang mengaku telah bertobat dan sedang berpuasa.

Agung Sedayu menjauh dengan melentingkan tubuhnya ringan. "Cukuplah air sungai itu untuk membatalkan puasamu--bila kau benar-benar berpuasa, Kedhung!"

Lawannya hanya bisa membalas dengan rintihan samar.

Di tengah perjalanan, derap langkah Agung Sedayu terhenti. Pemuda itu membelok mencari daun jati atau daun pisang. Seketemunya saja. Ia memandangi bebek goreng dalam besek -- aroma dan kulit kecoklatan dan bagian kulit yang digoreng hingga kering betapa menerbitkan air liur.

Dengan cekatan Agung Sedayu membagi dua bebek gorengnya. Bagiannya kembali disimpan dalam besek. Bagian yang lain dibungkus menggunakan daun pisang yang disemat kuat-kuat menggunakan ranting ramping.

Kedhung Pedhut duduk bersandar pohon. Perutnya melilit. Sebentar lagi senja turun sempurna dan ia hanya punya air sungai untuk berbuka -- blug!

Bungkusan daun dilempar tak jauh dari Kedhung Pedhut. Ranting penyematnya terbuka. Tampaklah bebek goreng yang diidam-idamkan sebagai lauk berbuka....

"Kenapa, Kakang?" tanya Kedhung Pedhut. "Kakang, janganlah terburu berlalu. Beri aku kesempatan untuk mengucapkan terima kasih," pinta pemuda gempal menghentikan langkah Agung Sedayu yang bergegas pergi.
Aja ngaku unggul menawa isih seneng ngasorake liyan. Jangan sok mengaku paling unggul ketika masih terselip bahagia saat merendahkan orang lain.

Aja ngaku suci menawa durung bisa manunggal ing ngarsa Gusti Kang Murbeng Dumadi. Jangan mengaku dan merasa paling suci tatkala hati belum ada kehendak menyatu dengan Illahi-Robbi.

Terngiang nasihat Kiai Samigaluh setiap kali usai melatih Agung Sedayu berlatih jurus-jurus silat. Agung Sedayu menggertakkan geraham. Betapa berbuat baik dan menundukkan amarah, utamanya di bulan puasa, tak pernah terasa mudah.

Sekali lagi diamatinya raut Kedhung Pedhut. Pemuda itu sepertinya akan baik-baik saja.

"Kakang, terima kasih...," kata Kedhung Pedhut.

"Hem...." Agung Sedayu mengangguk samar. Dalam sekejab sosoknya pergi menghilang - hanya terdengar samar desir daun kering yang tersapu langkahnya yang berderap ringan. ***
___
Cerita barusan hanyalah fiktif belaka. Namun, menu bebek goreng dan menu bebek-bebek lainnya dari #BebekMenoreh adalah nyata.

Menu Bebek Menoreh bisa dipesan via WA: 0857-0857-4637
Dikirim via go-send/grab-delivery | Lokasi: Gamping, Yogyakarta

Copyright © 2018- | Viva | Sitemap | KULINER BEBEK MENOREH | Bebek Jogja Mantap Siap Santap