KULINER BEBEK MENOREH | Bebek Jogja Mantap Siap Santap
Porsi Bebek Goreng
Trancam (Sayur Lalapan)
Rica-Rica
Nasi Pecel (Sayuran)
Ati Ampela
Aneka Sambal
Bebek Bakar
Is in Partnership With KOI (Keboen Oenggas Indonesia)
0857 0857 4637 (WA) | mail@bebekmenoreh.top

Rabu, 15 Mei 2019


Perebutan Bebek Menoreh Agung Sedayu dan Kedhung Pedhut

Agung Sedayu terpelanting menjauh. Ia berusaha bertahan namun tenaga asing yang menyerang tiba-tiba tanpa aba-aba terlalu besar. Langkahnya terhuyung ke belakang sebelum akhirnya ia menguasai kendali tubuh.


Beett!

Besek bambu dari tangan pendekar muda murid Kiai Samigaluh itu raib! Sekelebat bayangan hitam terbang mendekat lalu lenyap.

Punggung Agung Sedayu yang kena pukul bersenut pedih. Namun hanya sebentar. Ilmu musuhnya kali ini tak main-main. Pemuda itu kini meringankan tubuh hingga melenting ke atas. Kedua matanya awas mencari.

Perbukitan Menoreh sore itu tampak melulu hijau terbentang. Langit sore yang bersemburat awan-orange dan putih membuat perbukitan terlihat begitu syahdu.

Weerr!

Sesosok anak muda bertubuh gemuk pendek berderap di atas pucuk-pucuk bambu. Kecepatannya bagai alap-alap. Besek milik Agung Sedayu ada dalam kempitan lengannya yang sebesar regol kecamatan.

Kedhung Pedhut!

Toyak Agung Sedayu terhunus cepat. Langkah Kedhung Pedhut terhalang. Pemuda rakus doyan makan -- sekaligus gemar mencuri itu menghindari serangan murid Kiai Samigaluh dengan memutar tubuh menjauh. Beberapa batang bambu yang sudah tua ber-krakkk-krakkk patah di beberapa lokasi.

Agung Sedayu tak menghentikan kecepatan menghajarnya. Pemuda itu melompat garang. Kedua kepal tangannya menghantam dada Kedhung Pedhut.

"Ampun, Kakaang...," rintih Kedhung Pedhut setelah tertonjok hingga terpojok. "Aku berpuasa dan sekadar mencari makanan berbuka."

"Tapi tidak dengan mencuri makananku, Kedhung!"

"Aroma bebek gorengnya, Kang.... Menggoda. Menggerakkan naluriku untuk --"

"Mencuri!" potong Agung Sedayu penuh amarah.

"Tidak, Kang. Aku sudah bertobat," jawab Kedhung Pedhut.

Agung Sedayu tak percaya sedikit pun dengan perkataan anak muda di hadapannya. Kedhung Pedhut tak disukai masyarakat karena gemar mencuri. Hasil panen desa yang diangkut gerobak hampir selalu berkurang hingga separuh karena perbuatan busuk Kedhung Pedhut. Jagung, ketela pendem, blewah, pisang, dan macam-macam dirampok oleh si pemuda rakus.

Curiga Agung Sedayu terbukti. Begitu melihat celah sedikit, Kedhung Pedhut berkelit kabur. Serangan toyak Agung Sedayu berhasil dikembalikan hanya dengan beberapa kali sentak.

Menu Bebek Menoreh gorengku, batin Agung marah. Bebek goreng asin gurih dengan kulit kemriyuk sedikit nglenga (berminyak) saat dipuluk dengan nasi putih panas dan sambal bawang pedas --krenyes, krenyes, krenyees....

Agung Sedayu takkan membiarkan menu berbukanya diambil begitu saja!

Perkelahian tak dapat dielakkan. Jurus-jurus mematikan saling menyambar-nyambar.

Gerakan Agung Sedayu lincah seperti burung walet yang menari-nari di batas langit senja. Sedangkan pukulan Kedhung Pedhut berat dan penuh tenaga. Berputar-putar berbahaya menangkis segala serangan lawan. Keduanya melontar-lontar saling serang.

Tusukan keras toyak telak Agung Sedayu berhasil memukul mundur Kedhung Pedhut. Besek.bebek goreng berhasil ia rebut kembali.

Tubuh gempal penuh luka Kedhung Pedhut menyungsruk hingga pinggir kali. Air yang berkecipak membasahi tubuh lunglai si pencuri yang mengaku telah bertobat dan sedang berpuasa.

Agung Sedayu menjauh dengan melentingkan tubuhnya ringan. "Cukuplah air sungai itu untuk membatalkan puasamu--bila kau benar-benar berpuasa, Kedhung!"

Lawannya hanya bisa membalas dengan rintihan samar.

Di tengah perjalanan, derap langkah Agung Sedayu terhenti. Pemuda itu membelok mencari daun jati atau daun pisang. Seketemunya saja. Ia memandangi bebek goreng dalam besek -- aroma dan kulit kecoklatan dan bagian kulit yang digoreng hingga kering betapa menerbitkan air liur.

Dengan cekatan Agung Sedayu membagi dua bebek gorengnya. Bagiannya kembali disimpan dalam besek. Bagian yang lain dibungkus menggunakan daun pisang yang disemat kuat-kuat menggunakan ranting ramping.

Kedhung Pedhut duduk bersandar pohon. Perutnya melilit. Sebentar lagi senja turun sempurna dan ia hanya punya air sungai untuk berbuka -- blug!

Bungkusan daun dilempar tak jauh dari Kedhung Pedhut. Ranting penyematnya terbuka. Tampaklah bebek goreng yang diidam-idamkan sebagai lauk berbuka....

"Kenapa, Kakang?" tanya Kedhung Pedhut. "Kakang, janganlah terburu berlalu. Beri aku kesempatan untuk mengucapkan terima kasih," pinta pemuda gempal menghentikan langkah Agung Sedayu yang bergegas pergi.
Aja ngaku unggul menawa isih seneng ngasorake liyan. Jangan sok mengaku paling unggul ketika masih terselip bahagia saat merendahkan orang lain.

Aja ngaku suci menawa durung bisa manunggal ing ngarsa Gusti Kang Murbeng Dumadi. Jangan mengaku dan merasa paling suci tatkala hati belum ada kehendak menyatu dengan Illahi-Robbi.

Terngiang nasihat Kiai Samigaluh setiap kali usai melatih Agung Sedayu berlatih jurus-jurus silat. Agung Sedayu menggertakkan geraham. Betapa berbuat baik dan menundukkan amarah, utamanya di bulan puasa, tak pernah terasa mudah.

Sekali lagi diamatinya raut Kedhung Pedhut. Pemuda itu sepertinya akan baik-baik saja.

"Kakang, terima kasih...," kata Kedhung Pedhut.

"Hem...." Agung Sedayu mengangguk samar. Dalam sekejab sosoknya pergi menghilang - hanya terdengar samar desir daun kering yang tersapu langkahnya yang berderap ringan. ***
___
Cerita barusan hanyalah fiktif belaka. Namun, menu bebek goreng dan menu bebek-bebek lainnya dari #BebekMenoreh adalah nyata.

Menu Bebek Menoreh bisa dipesan via WA: 0857-0857-4637
Dikirim via go-send/grab-delivery | Lokasi: Gamping, Yogyakarta

Jumat, 10 Mei 2019


Mengejar Bebek Menoreh Kesrimpet Selendang

Sore itu perasaan Rahayu dongkol bukan main. Ia membuka kardus nasi kotak untuk berbuka puasa dan isinya hanya sekepal nasi dan dua iris mentimun. Mana lauknya?


Ibu guru berseru kaget, lalu berjanji akan segera mengganti kotak --atau setidaknya mencarikan lauk untuk murid kecilnya yang malang itu. "Aduh, padahal tidak ada lagi sisa nasi kotak. Aduh... ah, barangkali....," gumam Ibu guru menjauh.

Rahayu menyeruput teh hangatnya pelan-pelan. Kalau hanya tak ada lauk, ia masih tak apa-apa. Toh, puasa seharian kan tujuannya bukan untuk 'maruk' pada makan enak saat berbuka. Lagipula, masih ada kurma dan kue bolu yang disajikan sebagai teman minum teh. Tapi, kejadian saat latihan menari tadi masih saja membuatnya kesal.

Annisa membuatnya kesal!

Kwreeekkk!

Selendang menari milik Rahayu robek -- Annisa yang sadar karena kesalahannya menginjak ujung sampur malah meringis tak berdosa.

Pada mulanya hanya adu mulut. Ramai bersahut-sahutan. Rahayu menyalahkan Annisa, Annisa membela diri, lalu keduanya saling menyalahkan karena merasa sama-sama benar. Ibu guru turun melerai tepat saat keduanya mulai saling jambak.

Annisa harus menjahit sampur milik Rahayu--dan Rahayu harus menunggui pekerjaan temannya sampai selesai. Setelah itu mereka harus saling bersalaman, meminta maaf. Mereka melewatkan satu sesi berlatih menari karena kejadian itu.

"Maafin aku, ya," gerundel Annisa tak ikhlas menyodorkan tangan. Rahayu menerima uluran itu, lalu menjambak rambut panjang temannya kuat-kuat.

Annisa menjerit panjang minta perhatian Ibu guru. Tapi waktu berbuka puasa hampir tiba. Rahayu sudah berlari menjauh. Kelas menari dibubarkan. Anak-anak berkumpul berteman segelas teh hangat dan penganan.

Sampurnya robek, Annisa nyebelin, sekarang ia dapat nasi kotak tanpa lauk. Hari puasa yang... hih. Sebel, deh. :(

Ibu guru tak juga datang. Rahayu memutuskan untuk salat magrib terlebih dulu. Perutnya sudah keroncongan, tapi rasa kesal membuat nafsu makannya hilang.

"Ini buat kamu...."

Rahayu urung bangkit. Si nyebelin Annisa tiba-tiba duduk di sebelahnya, membuka kotak nasi dan menyuwir-nyuwir lauk bebek goreng miliknya. "Kita bagi dua, ya."

Rahayu cuma bisa melongo.

"Aku lihat Ibu guru bingung karena katering keliru mengurus pesanan. Nah, separuh buat kamu, separuh buat aku. Aku suka bebek goreng ini. Oh ya, nih, sambal goreng ati bebek sama semangkanya kubagi dua juga."

Perut Rahayu kembali berkeruyuk seperti kokokan ayam jantan. Annisa terkikih, Rahayu meringis malu.

"Ibuku selalu bilang, memberi tak pernah mengurangi, tapi justru menambah," kata Annisa. "Aku nggak ngerti apa maksudnya."

"Mungkin, dari lauk satu nasi kotak, jadi dua lauk dua nasi kotak. Nasi kotakmu dan punyaku," jawab Rahayu agak kurang yakin. "Nggak berkurang tapi malah bertambah, kan?"

"Iya, ya. Eh, aku tadi sungguhan minta maaf. Selendangmu robek. Aku nggak sengaja. Beneran. Maaf, ya."

Dongkol di hati Rahayu telah berkurang. "Kan kamu sudah ngejahitin lagi. Jahitanmu jelek, sih, tapi nggak apa-apa."

Annisa menyunggingkan senyum. "Makasih, ya. Berarti aku sudah impas: bersalah, tapi sudah ngebenerin sampurmu, dan minta maaf."

Rahayu mengangguk. Ia mengira mereka kini bisa jadi sepasang sahabat.

"Tapi, kamu masih berutang satu impas lagi denganku," kata Annisa.

"Apa?"

Annisa balas menjambak kuat-kuat rambut Rahayu hingga kawannya memekik kaget --juga kesakitan. Bocah bandel itu nyengir puas.

Rahayu tidak terima. Ia berlari mengejar Annisa yang sudah ngibrit menyelamatkan diri. Mereka berdua kejar-kejaran mengelilingi ruangan aula. Murid-murid kelas menari lainnya bersorak-sorak menyemangati keduanya.

"Ayo, lari! Lari!"

"Balas jambak! Jambak! Tonyoo....!"

Ibu guru menepuk jidat melihat keriuhan murid-muridnya. Selalu begitu, selalu lucu, selalu... hhhh.... Semoga saja tak ada gelas teh tertendang atau kue bolu gepeng terinjak.

"Anak-anak, ayoooo..... Salat magrib dulu. Hei, ayooo...," seru Ibu guru mencoba mengendalikan situasi. ***
___
Cerita barusan hanyalah fiktif belaka. Namun, menu bebek goreng dan menu bebek-bebek lainnya dari #BebekMenoreh adalah nyata.

Menu Bebek Menoreh bisa dipesan via WA: 0857-0857-4637
Kirim via go-send/grab-delivery | Lokasi: Gamping, Yogyakarta

Copyright © 2018- | Viva | Sitemap | KULINER BEBEK MENOREH | Bebek Jogja Mantap Siap Santap